Hari itu, Senin (30/4) relatif terik dari biasanya. Sejumlah mahasiswa terlihat mencekat peluh yang turun membasahi wajah. Tidak terkecuali, wanita muda dengan paras hitam manis disana. Dia adalah Jurniati, 25, asal Kota Banda Aceh.
Wajah Jurniati terlihat bengis karena segudang kegundahan yang ditanggungnya kini. Hari itu, Jurniati bergabung bersama 700-san mahasiswa lainnya untuk mengadu nasib mereka, yang katanya sedang dizalimi para mafia pendidikan.
Ya, para mafia intelektual yang kini bermarkas di Kampus Akademi Manajemen Ilmu Computer (AMIK). Kampus itu, kini sedang dapat sorotan tajam dari kalangan jurnalis sejak sebulan terakhir. Sayangnya, sorotan tajam dari pena jurnalis, belum mampu menggerakkan jiwa pengelola kampus itu untuk menyelesaikan dilema.
Untuk ini, Jurniati hanya mampu menahan perih. Perjuangan suaminya, kini diambang kesia-siaan dan kehancuran.
“Saya dari Kota Banda Aceh pulang kesini untuk dapat menimba ilmu. Ini demi memperjuangkan kualitas hidup diri dan keluarga. Namun, harapan itu nyaris sirna setelah kami tak terdaftar dan kuliah kelas jauh di Ulee Glee tak diakui,” papar Jurniati secara tiba-tiba. Ringan, tapi cukup menohok.
Impian Jurniati untuk dapat hidup layak, mulai pudar setelah kemelut muncul dan tanpa ia tahu kapan kesudahannya. Menurut mahasiswa semester IV ini, dia bersama suaminya harus membuat kerupuk jengek selama dua tahun terakhir untuk kuliah. Tidak hanya itu, disela-sela kuliah, dia juga menyempatkan diri untuk turun ke sawah.
“Uangnya saya tabung untuk kuliah. Kesedihan mendalam karena saya kuliah di kampus yang tidak bertanggung jawab. Padahal semua keinginan pengelola, seperti SPP telah saya lunaskan. Namun apa yang saya dapatkan?” katanya sembari mengusap air mata yang mulai turun dipipinya.
Tidak hanya Jurniati, nasib yang hampir sama juga dilakoni oleh Samsul Bahri, warga Lampoh Saka, Peukan Baro Pidie ini. Diusianya yang baru 21 tahun ini, ia telah mengecap pendidikan hingga sementer tiga di Kampus AMIK Jabal Ghafur. sebagai anak dari keluarga miskin dan ayahnya yang sedang sakit-sakitan, tentu perjuangannya sangat barat. Kini, dia malah disakiti oleh orang zalim.
Sehari-hari, Samsul Bahri lebih banyak menghabiskan waktu di kampus dan Pasar tradisional Lampoh Saka. Di tempat terakhir, dia biasanya mengais rupiah sedikit demi sedikit untuk membiayai pendidikan tinggi.







0 komentar:
Posting Komentar